Dia Bernama Henry

Dia bernama Henry.
Pekerjaan : Porter bagi para surveyor hutan atau batubara.
Sekolah : keluar saat kelas 2 SMP
Alasan keluar sekolah : tidak ada biaya

Saya kenal Henry sewaktu saya masih bergelut dengan pekerjaan lapangan (baca : di hutan).

Remaja asli suku Dayak ini tidak banyak bicara namun terkenal rajin dan ulet dalam bekerja, itulah sebabnya ia menjadi favorit diantara para surveyor rekan kerja saya.

Fisiknya telah terbentuk kokoh, mungkin juga karena pengalaman hidup yang telah banyak ia lalui, mulai dari bekerja serabutan untuk para penebang kayu di hutan, sampai merambah ibukota Jakarta pun pernah ia lakukan. Henry kemudian memutuskan kembali ke kampung halaman karena merasa jenuh dengan lingkungan yang mungkin kurang sepadan dengan  apa yang biasa ia lakukan di kampung halamannya yang tenang.

Karena keadaannya, Henry tidak pernah bercita-cita terlalu muluk. Ia tidak ingin menjadi politikus, tidak terbersit menjadi artis, atau bahkan tidak terlalu pusing memikirkan mau jadi apa ia nanti, yang penting adalah ia bisa bekerja dan menghasilkan uang.

Henry tidak pernah berputus asa mengejar cara bagaimana ia bisa bekerja, dan syukurlah karena tanpa perlu terlalu jauh meninggalkan keluarga pun ia bisa mendapatkan rejeki dari perusahaan kayu atau konsultan tambang yang memutuskan untuk “merambah” daerah tempat tinggalnya untuk disurvey dan dieksplorasi.

Untuk menuju ke tempat tinggal Henry dari kota atau desa terdekat bisa dilakukan dengan menggunakan perahu mesin, dan dilanjutkan dengan sedikit berjalan kaki. Memang terkadang bisa dilalui dengan kendaraan bermotor, akan tetapi itu harus didahului catatan bahwa hari sedang tidak hujan karena jalanan sudah pasti tidak akan bisa dilalui.

Henry tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya biaya, dan ia punya banyak teman yang mengalami hal serupa di lingkungan tempat tinggalnya.

Ya, mereka tinggal di sebuah daerah yang kaya oleh sumber daya alam, namun entah kenapa mereka tidak bisa bersekolah sempurna dan mengejar cita-cita layaknya orang-orang di kota. Karena itu Henry sering menyayangkan seandainya ada remaja-remaja yang sudah hidup layak di kota (baca : bersekolah), justru tidak pernah mensyukuri apa yang mereka punya. Padahal mereka tidak perlu menebang kayu untuk membeli buku, tidak usah bergelut dengan hewan liar demi jajan di kantin sekolah atau menelusuri sungai untuk berangkat menuju ke sekolah.

Henry sejatinya adalah seorang remaja yang cerdas. Namun kecerdasannya tidak pernah tersentuh oleh teknologi, dan hanya dibiarkan mengambang entah sampai kapan.

Henry sering bercerita bahwa tuan-tuan tempat ia bekerja dan mengambil kekayaan di lahan mereka kebanyakan adalah orang-orang pusat dari tanah seberang. Orang-orang yang tahu tentang harga uang dan kemakmuran. Namun semakin sumber daya di lahannya mulai habis terkikis toh kemakmuran kampung halamannya tidak jua terlihat. Hanya ada lahan-lahan gersang yang ditinggalkan, jalan-jalan rusak dan berlubang setelah tidak ada lagi truk-truk besar yang lewat serta suguhan-suguhan memabukkan dari layar tivi yang mulai memasuki kehidupan alami mereka.

Apakah Henry hanyalah seorang petualang atau ia juga sosok anak bangsa yang tidak mendapat kesempatan ? entahlah, karena hanya ada satu pesan yang sempat terkatakan ketika kami berpamitan : ” Lanjutkan sekolahmu, dan bangunlah lingkunganmu, jangan sampai terus-terusan menjadi “budak” karena kelak suatu hari nanti engkau dan teman-temanmu layak menjadi Tuan di tanahmu sendiri .. “

Merindukan Hutan ..

Hari ini saya melewati jembatan layang itu untuk kesekian kali. Dan untuk kesekian kalinya saya bisa menatap sebagian besar kota dengan ragam gedung bertingkatnya di bawah tatapan mata. Panasnya matahari bercampur baur dengan hiruk pikuk manusia dalam segala aktivitas mereka.

Sudah lebih dari tiga bulan semenjak saya pindah ke kota ini. Nggak nyangka juga jika akhirnya perasaan ini muncul..

Ya, saya merindukan hutan dengan segala macam kompleksivitasnya. Merindukan kicauan burung yang membangunkan setiap pagi saya, merindukan kesunyian malam yang menemani terpejamnya mata saya.
More >